Minggu, 02 Desember 2012

Desember

Desembeerr :)
Bulan terakhir dalam satu tahun, akhirnya sampai juga dipenghujung tahun 2012, semoga isu kiamat 2012 itu memang hanya isu belaka. Amiin
Awal Desember, hmm, semoga menjadi awal yang tidak buruk untuk memulai. Aku ingat pertama kali aku berkomitmen dengan "seseorang" pada bulan Desember. Berkenalan dengannya seminggu setelah hari ulang tahunnya, sedikit tidak nyaman awalnya. Menurutku "agresif", dan entah aku biasa saja, keadaan kita, dia tinggal di Padang dan aku di Bali, haha. LDR yang spektakuler. Berawal aku hanya "iseng" dan "maen-maen" sih *upst but aku menyukainya, finally. It's just "LIKE" not "LOVE". Mengingatnya membuatku ingin tertawa, ciyus deh. Bodoh apa polos aku saat itu?? Dan itu setahun yang lalu.

Gambar 1 : Remembering Past 

Sebelumnya, aku bersama dia, my first love *ceileeh* bukan pacar pertama :D
Tapi memang tak  pernah ada kata komitmen, kalo sekarang sih mungkin namanya HTS (Hubungan Tanpa Suami *Status*) haha. Jika mengingatnya, aku harus menerawang jauh sekali dan menepis kembali beberapa luka dan itu sedikit menyakitkan. Baiklah, life must go on, biarlah kenangan tersimpan rapi ditempatnya, lebih lebih jangan terlalu sering dibuka, indikasinya bisa amat berbahaya! I swear!!

Ahh, setelah mengingat beberapa masa lalu pasti deh mengingat kenangan yang masih menghangat sampai detik ini masih kurasakan. Senyumnya, pahatan wajahnya, matanya, dan semua tentangnya mungkin masih segar dalam memory, tapi basi dalam mulut. Namun candu akan dirinya terkadang menyiksa sesaat. Hei, bidadariku, aku merindumu. Apa kau mendengarku? Apa kau kini bahagia bidadari? Dengarkan aku, aku tahu batinmu tersiksa, aku tahu kau kesakitan disana, tapi kau munafikkan sakitmu dengan tawa palsumu. Kau tahu, harusnya kau tahu bahwa aku merasakannya. Darahku pernah mengalir dalam tubuhmu, bidadari. Tapi kali ini aku benar-benar harus membuangmu dari ingatanku bidadari. Aku kan selalu berdoa untukmu, selalu, disetiap sujudku. Kau memberiku sejuta kisah, kau mengajariku segalanya. Aku ingin bersahabat denganmu bidadari. Mengapa kau menghindar? Mungkin rasaku padamu telah berubah, aku sudah merajut lukaku sendiri, luka yang pernah aku buat sendiri pula, untukmu. Aku hanya ingin senyum tulusmu kembali bidadari, itu saja. Senyummu, bagai ribuan titik salju di gersang hatiku. Terima kasih kau pernah jatuh di jantung hatiku, terima kasih telah memberikan warna dalam hariku, dulu. Semoga Tuhan masih melindungimu dan Tuhan membantuku menghapus candu akan dirimu, perlahan. Pergilah bidadari, aku telah melepasmu, membiarkanmu bebas tanpa rantai dariku. Jaga  baik-baik apa yang telah kuberi untukmu. Aku tak ingin serpihanmu mengganggu hidupku saat ini dan nanti. :)

"R"
Kembali ke Desember, berawal dari Desember dan semoga berakhir di Desember pula. Awalnya ini seperti tahun lalu, berkenalan dengan masih membawa luka dan berdarah. Namun, the power of "Witing Tresno Jalaran soko Kulina" benar-benar telah meracuniku. Mungkin berusaha kutolak, tapi sudah menjalar jauh menginfeksi otakku. Aku, terlalu pengecut untuk kembali berkomitmen, walau aku tahu rasa ini tak bisa kumunafikkan lagi. Aku hanya belum siap, rongga hatiku masih begitu rapuh, terkadang lancang membukakan pintunya pada masa lalu dan terkadang mengunci rapat untuk dia yang baru. Aku tak ingin menyakitinya Tuhan, aku juga bukan memberinya harapan palsu. Suatu saat, aku janji, jika Tuhan memang akan menjadikanmu yang terakhir, Tuhan akan meyakinkan hatiku untuk memilihmu. Tuhan, jika cintamu masih menyertaiku, ijinkan aku berikan cintaku kepada orang yang mencintaiku. Ikhlaskan dia yang telah pergi dan sambutlah ia yang kini datang. Yakinkan bahwa ia akan menjadi yang terakhir. Ajari aku lagi bagaimana mencintai setiap bagian dari dalam dirinya, seperti aku mencintai bidadarimu dulu Tuhan. Agar ia juga akan mencintaiku bukan karena lebihku tapi juga mencintai setiap bagian kekuranganku. Karena hanya dengan itu aku yakin Tuhan. :D




Sekian lama tak menulis seperti ini, rasanya sedikit gagap. Aku rasa ini seperti curhatan, tapi maksudku adalah harapan. Setidaknya sekali saja mencurahkan apa yang sedang aku pikirkan dan menuangnya dalam susunan kata yang mungkin jauh dari kata "indah" tapi aku membaginya dengan tulus. haha. Ketika semua terkumpul seperti ini tiba-tiba saja langit kotaku mendung dan gelap, air bangsat itu turun lagi,dan mengalir memberiku kata demi kata. Hingga baris terakhir kutulis dan sepotong puisi kubuat, hujan masih mengguyur, dan ketika semua selesai, mendung mulai lelah dan pergi :)
Sedikit pantun garing yang kubuat sendiri selama bertahun-tahun tak membuatnya :D

Panjat pohon mencari madu,
lihat Pak Lurah meminum arak,
Indahnya kasih adanya rindu,
tapi ini rindu terhalang jarak.

Beli arak ke Jogjakarta,
pulangnya mampir beli alpukat,
Biarlah jarak memisah cinta,
tetapi hati kita adalah dekat.

Selamat pagi dan semoga Desember kalian menyenangkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar